icon Logo
Start a Conversation Hi! Click one of our member below to chat on Whatsapp
Training Mahal Tidak Selalu Berdampak Besar
Siker.id | 29 Jun 2026 15:27


Bagikan ke

Perusahaan saat ini semakin menyadari pentingnya pengembangan kompetensi karyawan. Anggaran pelatihan terus meningkat, program sertifikasi semakin beragam, dan berbagai workshop diselenggarakan sepanjang tahun.

Namun ada satu pertanyaan yang sering muncul setelah program selesai dilaksanakan:

Apakah pelatihan tersebut benar-benar mengubah cara orang bekerja?

Karena pada kenyataannya, biaya pelatihan yang besar belum tentu menghasilkan dampak yang besar pula bagi organisasi.

Ketika Pelatihan Menjadi Aktivitas Rutin

Banyak perusahaan memiliki kalender pelatihan tahunan yang cukup padat.

Karyawan mengikuti kelas.

Materi disampaikan.

Sertifikat dibagikan.

Evaluasi kepuasan peserta dilakukan.

Kemudian program dianggap selesai.

Sayangnya, ukuran keberhasilan sering berhenti pada jumlah peserta, tingkat kehadiran, atau penilaian terhadap fasilitator.

Padahal ukuran yang lebih penting adalah:

  • Apakah perilaku kerja berubah?
  • Apakah kompetensi benar-benar meningkat?
  • Apakah ada perbaikan terhadap hasil kerja?
  • Apakah organisasi memperoleh manfaat nyata dari investasi yang telah dilakukan?

Tanpa perubahan pada praktik kerja sehari-hari, pelatihan berisiko hanya menjadi aktivitas administratif yang menghabiskan anggaran.

Mengapa Banyak Program Pelatihan Tidak Memberikan Dampak?

Dalam banyak kasus, masalahnya bukan pada kualitas materi atau kemampuan trainer.

Tantangan utamanya justru terletak pada proses setelah pelatihan selesai.

Beberapa penyebab yang umum terjadi antara lain:

  • pelatihan tidak dirancang berdasarkan kebutuhan nyata organisasi
  • peserta tidak memiliki kesempatan untuk menerapkan materi yang dipelajari
  • tidak ada pendampingan setelah pelatihan
  • atasan tidak terlibat dalam proses pengembangan karyawan
  • keberhasilan pelatihan hanya diukur dari penyelenggaraan, bukan hasil implementasi

Akibatnya, peserta kembali bekerja dengan cara yang sama seperti sebelumnya.

Materi yang diperoleh perlahan terlupakan.

Dan investasi pelatihan tidak memberikan nilai tambah yang signifikan.

Belajar Tidak Selalu Terjadi di Ruang Kelas

Pelatihan formal memang penting.

Namun pembelajaran yang paling efektif sering kali terjadi ketika seseorang menghadapi tantangan nyata dalam pekerjaannya.

Belajar dapat terjadi melalui:

  • coaching dari atasan
  • proyek lintas fungsi
  • rotasi pekerjaan
  • mentoring
  • diskusi tim
  • evaluasi terhadap pengalaman kerja sehari-hari

Karena itu, pengembangan kompetensi tidak dapat bergantung sepenuhnya pada kegiatan pelatihan formal.

Organisasi perlu menciptakan lingkungan yang mendukung pembelajaran berkelanjutan.

Studi Kasus Nyata

Sebuah perusahaan layanan kesehatan menginvestasikan anggaran yang cukup besar untuk pelatihan pelayanan pelanggan bagi seluruh staf frontliner.

Pelatihan berlangsung selama beberapa hari dan mendapatkan respons positif dari peserta.

Sebagian besar peserta menilai materi menarik dan relevan dengan pekerjaan mereka.

Namun enam bulan setelah pelatihan dilakukan, hasil survei kepuasan pelanggan menunjukkan perubahan yang sangat kecil.

Setelah dilakukan evaluasi lebih mendalam, perusahaan menemukan beberapa penyebab utama.

Tidak ada standar perilaku baru yang diterapkan setelah pelatihan.

Atasan tidak melakukan coaching terkait penerapan materi.

Indikator pelayanan juga tidak diperbarui untuk mengukur perubahan perilaku.

Perusahaan kemudian melakukan perbaikan dengan:

  • menetapkan standar pelayanan yang lebih jelas
  • melakukan coaching rutin oleh supervisor
  • memberikan umpan balik berkala
  • mengintegrasikan materi pelatihan ke dalam evaluasi kinerja

Dalam beberapa bulan berikutnya, kualitas layanan mulai meningkat dan perubahan perilaku lebih mudah terlihat.

Perusahaan menyadari bahwa keberhasilan pelatihan tidak ditentukan oleh seberapa baik kelas berlangsung.

Tetapi oleh seberapa konsisten pembelajaran diterapkan dalam pekerjaan sehari-hari.

Dari Training Menjadi Learning Culture

Organisasi yang berkembang tidak hanya berfokus pada jumlah pelatihan yang diselenggarakan.

Mereka berupaya membangun budaya belajar.

Dalam budaya tersebut:

  • belajar menjadi bagian dari pekerjaan,
  • kesalahan dipandang sebagai peluang perbaikan,
  • atasan berperan sebagai coach,
  • pengalaman kerja menjadi sumber pembelajaran,
  • dan pengembangan kompetensi dilakukan secara berkelanjutan.

Dengan pendekatan ini, pelatihan bukan lagi sekadar kegiatan tahunan.

Pelatihan menjadi salah satu bagian dari sistem pengembangan manusia yang lebih luas.

Insight Penting

Pelatihan yang mahal belum tentu menghasilkan perubahan yang besar.

Sebaliknya, program pengembangan yang sederhana namun didukung oleh praktik kerja yang konsisten justru dapat memberikan dampak yang lebih signifikan.

Pada akhirnya, keberhasilan pengembangan SDM tidak diukur dari banyaknya pelatihan yang dilakukan.

Tetapi dari sejauh mana pembelajaran mampu mengubah perilaku, meningkatkan kompetensi, dan menciptakan hasil yang lebih baik bagi organisasi.

Karena dalam dunia kerja yang terus berubah, kemampuan belajar dan menerapkan pembelajaran akan menjadi keunggulan yang jauh lebih penting dibanding sekadar menghadiri pelatihan.

Menurut Anda, apa faktor yang paling sering membuat program pelatihan gagal memberikan dampak nyata di perusahaan: materi yang kurang relevan, minimnya tindak lanjut, atau tidak adanya dukungan dari atasan?


Reporter: Kemal Adi Prabowo
Editor: -

     

Komentar