Whatsapp Logo
Start a Conversation Hi! Click one of our member below to chat on Whatsapp
Skill-Based Hiring vs Degree-Based Hiring
Siker.id | 27 Apr 2026 16:11


Bagikan ke

Skill-Based Hiring vs Degree-Based Hiring: Mana yang Lebih Relevan di Dunia Kerja Saat Ini?

 

 

Dalam proses rekrutmen, satu pertanyaan besar yang semakin sering muncul adalah: apakah gelar pendidikan masih menjadi tolok ukur utama dalam menilai kandidat, atau justru keterampilan yang lebih penting?

 

 

Di tengah perubahan dunia kerja yang semakin dinamis, banyak perusahaan mulai menggeser pendekatan dari degree-based hiring (rekrutmen berbasis gelar) ke skill-based hiring (rekrutmen berbasis keterampilan).

 

 

Namun, apakah skill-based hiring benar-benar lebih baik? Atau degree-based hiring masih memiliki relevansi?

 

 

Mari kita bedah.

 

 

Apa itu Degree-Based Hiring?

 

 

Degree-based hiring adalah pendekatan rekrutmen yang menjadikan latar belakang pendidikan formal atau gelar akademik sebagai salah satu syarat utama seleksi kandidat.

 

 

Pendekatan ini selama bertahun-tahun menjadi standar karena dianggap sebagai indikator pengetahuan dasar, kedisiplinan, dan kemampuan belajar seseorang.

 

 

Kelebihan:

 

? Memudahkan proses filter awal kandidat

 

? Menjadi indikator dasar kompetensi akademik

 

? Cocok untuk posisi yang membutuhkan sertifikasi atau keahlian formal

 

 

Kekurangan:

 

? Potensi mengabaikan kandidat berbakat tanpa gelar formal

 

? Tidak selalu mencerminkan kemampuan kerja nyata

 

? Membatasi talent pool perusahaan

 

 

 

Apa itu Skill-Based Hiring?

 

 

Skill-based hiring adalah pendekatan rekrutmen yang fokus pada kemampuan praktis, pengalaman, dan kompetensi yang dimiliki kandidat, terlepas dari latar belakang pendidikan formalnya.

 

 

Dalam model ini, perusahaan lebih melihat:

 

 

* Apa yang kandidat bisa kerjakan

 

* Bagaimana kualitas hasil kerjanya

 

* Seberapa cepat ia bisa beradaptasi

 

 

Kelebihan:

 

? Membuka peluang lebih luas bagi talent potensial

 

? Lebih relevan dengan kebutuhan kerja aktual

 

? Mempercepat adaptasi karena kandidat dinilai berdasarkan kemampuan nyata

 

 

Kekurangan:

 

? Proses assessment bisa lebih kompleks

 

? Membutuhkan alat ukur kompetensi yang lebih akurat

 

? Risiko mismatch jika validasi skill kurang kuat

 

 

 

Studi Kasus Nyata

 

 

Sebuah perusahaan teknologi yang sedang berkembang mengalami kesulitan merekrut posisi digital marketing.

 

 

Awalnya, mereka mensyaratkan minimal gelar sarjana di bidang marketing atau komunikasi. Namun setelah beberapa bulan, posisi tersebut belum terisi karena kandidat yang memenuhi kriteria cukup terbatas.

 

 

Perusahaan kemudian mengubah pendekatan.

 

 

Alih-alih fokus pada gelar, mereka mulai menilai berdasarkan:

 

? Portofolio campaign

 

? Pengalaman mengelola iklan digital

 

? Pemahaman data analytics

 

? Kemampuan copywriting dan optimasi konten

 

 

Hasilnya?

 

 

Mereka menemukan kandidat yang tidak memiliki latar pendidikan marketing, tetapi memiliki pengalaman freelance selama 3 tahun dan portofolio yang terbukti menghasilkan conversion yang baik.

 

 

Dalam waktu 4 bulan:

 

???? Engagement campaign meningkat

 

???? Cost per acquisition lebih efisien

 

???? Kecepatan eksekusi tim marketing membaik

 

 

Pelajaran pentingnya:

 

kompetensi nyata sering kali lebih relevan dibanding formalitas latar belakang.

 

 

Jadi, Mana yang Lebih Baik?

 

 

Jawabannya: tergantung kebutuhan posisi.

 

 

Untuk pekerjaan yang membutuhkan lisensi, regulasi, atau keahlian akademik tertentu, degree-based hiring tetap penting.

 

 

Namun untuk banyak posisi modern—terutama di bidang digital, sales, operasional, hingga kreatif—skill-based hiring semakin relevan.

 

 

Karena pada akhirnya, perusahaan tidak hanya membutuhkan orang yang “belajar tentang pekerjaan”, tetapi orang yang “bisa mengerjakan pekerjaan”.

 

 

Menurut Anda, di era sekarang:

 

lebih penting gelar atau skill?


Reporter: Kemal Adi Prabowo
Editor: -

     

Komentar