icon Logo
Start a Conversation Hi! Click one of our member below to chat on Whatsapp
Quiet Quitting & Dampaknya bagi Perusahaan
Siker.id | 27 Jan 2026 13:43


Bagikan ke
ARTIKEL TERKAIT

Istilah quiet quitting semakin sering terdengar di dunia kerja, terutama sejak pandemi dan meningkatnya kesadaran karyawan akan kesehatan mental. Quiet quitting bukan berarti karyawan benar-benar mengundurkan diri, melainkan bekerja sebatas job description tanpa usaha ekstra, inisiatif, atau keterlibatan emosional. Fenomena ini menjadi sinyal penting yang tidak boleh diabaikan oleh perusahaan dan HRD.

 

 

Apa Itu Quiet Quitting?

 

 

Quiet quitting terjadi ketika karyawan merasa tidak lagi termotivasi, kurang dihargai, atau lelah secara mental. Mereka tetap hadir dan menyelesaikan tugas, tetapi berhenti memberikan kontribusi lebih. Penyebabnya beragam, mulai dari beban kerja berlebih, kepemimpinan yang kurang suportif, hingga ketidakjelasan jenjang karier.

 

 

Berbeda dengan malas, quiet quitting sering kali merupakan bentuk mekanisme bertahan dari karyawan yang mengalami burnout atau frustrasi berkepanjangan.

 

 

Dampak Quiet Quitting bagi Perusahaan

 

 

Meski terlihat “aman” karena karyawan tidak resign, quiet quitting justru membawa dampak serius, antara lain:

 

 

1. Penurunan Produktivitas

 

 

Karyawan tidak lagi berinisiatif atau berinovasi. Pekerjaan berjalan, tetapi tidak berkembang.

 

 

2. Menurunnya Kualitas Kerja Tim

 

 

Sikap pasif dapat menular ke rekan kerja lain dan menurunkan semangat tim secara keseluruhan.

 

 

3. Meningkatnya Turnover Tersembunyi

 

 

Quiet quitting sering menjadi tahap awal sebelum karyawan benar-benar mengundurkan diri.

 

 

4. Kerugian Finansial Jangka Panjang

 

 

Produktivitas rendah dan tingginya biaya rekrutmen ulang dapat membebani perusahaan.

 

 

Peran HRD dalam Mengatasi Quiet Quitting

 

 

HRD memiliki peran strategis untuk mencegah dan menangani quiet quitting. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

 

 

• Membangun komunikasi dua arah yang terbuka dengan karyawan

 

 

• Menyediakan career path yang jelas

 

 

• Mengedepankan kepemimpinan empatik

 

 

• Memastikan beban kerja dan target tetap realistis

 

 

• Memperhatikan kesejahteraan mental karyawan

 

 

Kesimpulan

 

 

Quiet quitting bukan sekadar tren, melainkan alarm bagi perusahaan bahwa ada masalah dalam sistem kerja, budaya, atau kepemimpinan. Perusahaan yang proaktif mendengarkan suara karyawan dan menciptakan lingkungan kerja sehat akan lebih mampu menjaga engagement dan produktivitas jangka panjang.

 

 

Mengatasi quiet quitting bukan tentang memaksa karyawan bekerja lebih keras, melainkan menciptakan alasan yang kuat bagi mereka untuk peduli kembali.

 

 


Reporter: Mutiara Zahra
Editor: -

     

Komentar
ARTIKEL TERKAIT
Pencarian