- Apa Itu Workcation? Yuk Kenali Tren Kerja Ini!
- 3 Tips Ampuh Memaksimalkan Work Life Balance
- Kamu Ingin Jadi HR? Pelajari 4 Skill Penting Ini!
- Berikut 6 Tugas Human Resource Dalam Perusahaan
- 6 Tantangan HR di Era Modern
- Peran Software HR
- Skill-Based Hiring vs Degree-Based Hiring
- Feedback Tahunan Tidak Lagi Cukup di Era Kerja yang Cepat
- Mengapa 90 Hari Pertama Menentukan Kesuksesan Karyawan
- Semakin Banyak Tools, Belum Tentu Semakin Produktif
Dalam proses rekrutmen, perusahaan biasanya berusaha mencari kandidat dengan kompetensi terbaik.
Memiliki pengalaman yang relevan.
Menguasai keterampilan teknis.
Mampu menggunakan berbagai tools.
Memiliki sertifikasi yang dibutuhkan.
Semua itu memang penting.
Namun setelah kandidat bergabung, tidak sedikit perusahaan yang menghadapi kenyataan bahwa kompetensi teknis saja tidak selalu menjamin keberhasilan seseorang di tempat kerja.
Ada karyawan yang sangat kompeten, tetapi sulit bekerja sama.
Ada yang cepat menyelesaikan tugas, tetapi enggan menerima masukan.
Ada pula yang memiliki pengalaman panjang, tetapi sulit beradaptasi dengan perubahan.
Hal ini menunjukkan bahwa organisasi tidak hanya membutuhkan orang yang mampu bekerja, tetapi juga orang yang memiliki sikap kerja yang mendukung keberhasilan tim.
Merekrut Skill Lebih Mudah daripada Membangun Sikap Kerja
Keterampilan teknis umumnya dapat diidentifikasi melalui proses seleksi.
Perusahaan dapat menilai kemampuan kandidat melalui tes, portofolio, studi kasus, atau pengalaman kerja.
Sebaliknya, sikap kerja jauh lebih kompleks.
Sikap seperti tanggung jawab, rasa ingin belajar, kemampuan berkolaborasi, disiplin, integritas, dan keterbukaan terhadap umpan balik sering kali baru terlihat setelah seseorang menjalani pekerjaannya.
Karena itu, proses rekrutmen hanya menjadi langkah awal.
Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana organisasi membangun lingkungan yang mampu menumbuhkan sikap kerja yang positif secara konsisten.
Sikap Kerja Dibentuk oleh Lingkungan
Sering kali organisasi menganggap sikap kerja sepenuhnya merupakan tanggung jawab individu.
Padahal budaya kerja memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perilaku karyawan.
Misalnya:
- jika pemimpin terbuka menerima masukan, tim cenderung lebih berani menyampaikan ide.
- jika kolaborasi lebih dihargai daripada persaingan internal, orang akan lebih mudah saling membantu.
- jika kesalahan dijadikan kesempatan belajar, karyawan tidak takut mencoba pendekatan baru.
Sebaliknya, lingkungan yang penuh saling menyalahkan, komunikasi yang tertutup, atau apresiasi yang minim dapat membuat karyawan kehilangan inisiatif, meskipun mereka memiliki kompetensi yang tinggi.
Studi Kasus Nyata
Sebuah perusahaan jasa keuangan berhasil merekrut beberapa lulusan terbaik dari berbagai universitas.
Secara teknis, kemampuan mereka sangat baik.
Mereka cepat memahami sistem dan mampu menyelesaikan pekerjaan sesuai target.
Namun setelah beberapa bulan, muncul tantangan baru.
Kolaborasi antartim tidak berjalan optimal.
Beberapa karyawan enggan berbagi pengetahuan.
Masukan sering dianggap sebagai kritik pribadi.
Akibatnya, penyelesaian proyek menjadi lebih lambat meskipun kemampuan individu sangat baik.
Perusahaan kemudian mengevaluasi pendekatan pengembangan SDM.
Selain pelatihan teknis, perusahaan mulai memperkuat program onboarding, mentoring, coaching, serta menetapkan perilaku kerja yang diharapkan sebagai bagian dari evaluasi kinerja.
Para manajer juga diberikan pelatihan mengenai cara membangun budaya kolaboratif melalui contoh perilaku sehari-hari.
Dalam satu tahun, kualitas kerja sama meningkat.
Konflik antarindividu menurun.
Proses berbagi pengetahuan menjadi lebih aktif.
Perusahaan menyadari bahwa keberhasilan tim tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga oleh sikap kerja yang dibangun bersama.
Rekrutmen Adalah Awal, Bukan Akhir
Perusahaan tentu perlu berupaya merekrut orang dengan kompetensi terbaik.
Namun proses tersebut tidak boleh menjadi satu-satunya strategi dalam membangun organisasi yang unggul.
Organisasi juga perlu menciptakan sistem yang mendukung pembentukan perilaku positif melalui:
- proses onboarding yang efektif
- kepemimpinan yang memberikan teladan
- budaya feedback yang sehat
- sistem penghargaan yang mendorong kolaborasi
- kesempatan belajar yang berkelanjutan
Dengan demikian, perusahaan tidak hanya mendapatkan orang yang mampu bekerja, tetapi juga mampu membangun tim yang saling mendukung dan terus berkembang.
Insight Penting
Skill membuka peluang bagi seseorang untuk diterima bekerja.
Namun sikap kerja sering kali menentukan apakah seseorang mampu berkembang, dipercaya, dan memberikan dampak jangka panjang bagi organisasi.
Di sisi lain, perusahaan juga memiliki tanggung jawab untuk membangun lingkungan yang mendorong munculnya sikap kerja yang positif.
Karena pada akhirnya, organisasi yang hebat bukan hanya diisi oleh orang-orang yang paling pintar.
Melainkan oleh orang-orang yang memiliki kompetensi sekaligus kemauan untuk belajar, berkolaborasi, dan bertumbuh bersama.
Menurut Anda, ketika merekrut karyawan baru, mana yang lebih sulit: menemukan kandidat dengan skill yang tepat, atau membangun sikap kerja yang tepat setelah mereka bergabung?
Editor: -
Komentar
- Apa Itu Workcation? Yuk Kenali Tren Kerja Ini!
- 3 Tips Ampuh Memaksimalkan Work Life Balance
- Kamu Ingin Jadi HR? Pelajari 4 Skill Penting Ini!
- Berikut 6 Tugas Human Resource Dalam Perusahaan
- 6 Tantangan HR di Era Modern
- Peran Software HR
- Skill-Based Hiring vs Degree-Based Hiring
- Feedback Tahunan Tidak Lagi Cukup di Era Kerja yang Cepat
- Mengapa 90 Hari Pertama Menentukan Kesuksesan Karyawan
- Semakin Banyak Tools, Belum Tentu Semakin Produktif
