- Apa Itu Workcation? Yuk Kenali Tren Kerja Ini!
- 3 Tips Ampuh Memaksimalkan Work Life Balance
- Kamu Ingin Jadi HR? Pelajari 4 Skill Penting Ini!
- Berikut 6 Tugas Human Resource Dalam Perusahaan
- 6 Tantangan HR di Era Modern
- Peran Software HR
- Skill-Based Hiring vs Degree-Based Hiring
- Feedback Tahunan Tidak Lagi Cukup di Era Kerja yang Cepat
- Mengapa 90 Hari Pertama Menentukan Kesuksesan Karyawan
- Semakin Banyak Tools, Belum Tentu Semakin Produktif
Salah satu keluhan yang cukup sering terdengar di dunia kerja saat ini adalah:
"Generasi muda sekarang tidak loyal."
Mereka dianggap lebih mudah berpindah pekerjaan.
Lebih berani mengundurkan diri.
Lebih sering mempertimbangkan peluang baru dibanding bertahan dalam satu perusahaan dalam jangka panjang.
Akibatnya, muncul anggapan bahwa loyalitas karyawan semakin menurun dibanding generasi sebelumnya.
Namun, apakah benar demikian?
Atau sebenarnya yang berubah bukan loyalitasnya, melainkan definisi loyalitas itu sendiri?
Loyalitas di Masa Lalu dan Masa Kini
Pada masa lalu, loyalitas sering diukur dari lamanya seseorang bekerja di sebuah perusahaan.
Semakin lama masa kerja seseorang, semakin loyal ia dianggap.
Bahkan tidak sedikit karyawan yang menghabiskan sebagian besar kariernya di satu organisasi.
Namun dunia kerja saat ini berbeda.
Perubahan teknologi berlangsung cepat.
Model bisnis terus berkembang.
Peluang karier semakin terbuka.
Informasi mengenai kesempatan kerja juga jauh lebih mudah diakses.
Dalam kondisi seperti ini, loyalitas tidak lagi selalu identik dengan bertahan selama mungkin di satu tempat kerja.
Apa yang Dicari Generasi Muda?
Banyak karyawan muda tetap memiliki komitmen tinggi terhadap pekerjaannya.
Mereka bersedia bekerja keras.
Mau belajar hal baru.
Siap berkontribusi lebih.
Namun mereka juga memiliki ekspektasi tertentu terhadap organisasi.
Di antaranya:
- kesempatan berkembang
- kejelasan karier
- lingkungan kerja yang sehat
- kepemimpinan yang suportif
- pekerjaan yang memberikan makna
- keseimbangan kehidupan dan pekerjaan yang lebih baik
Ketika kebutuhan tersebut terpenuhi, banyak karyawan muda menunjukkan loyalitas yang sangat tinggi.
Sebaliknya, ketika mereka merasa tidak berkembang atau tidak dihargai, mereka cenderung lebih cepat mencari alternatif lain.
Bukan karena tidak loyal.
Tetapi karena mereka tidak melihat alasan yang cukup kuat untuk bertahan.
Loyalitas Bukan Lagi Tentang Bertahan Tanpa Batas
Salah satu perubahan terbesar adalah cara generasi muda memandang hubungan kerja.
Mereka cenderung melihat hubungan antara perusahaan dan karyawan sebagai hubungan yang saling memberikan nilai.
Perusahaan memberikan kesempatan berkembang, pengalaman, kompensasi, dan lingkungan kerja yang baik.
Sementara karyawan memberikan kontribusi, kompetensi, ide, dan hasil kerja.
Ketika hubungan tersebut berjalan sehat, loyalitas tumbuh secara alami.
Namun jika salah satu pihak tidak lagi mendapatkan nilai dari hubungan tersebut, keputusan untuk berpindah dianggap sebagai langkah profesional, bukan bentuk pengkhianatan.
Studi Kasus Nyata
Sebuah perusahaan ritel modern mengalami tingkat turnover yang cukup tinggi pada kelompok karyawan muda.
Manajemen awalnya beranggapan bahwa generasi baru memang cenderung tidak loyal.
Namun setelah melakukan survei internal dan wawancara terhadap karyawan yang keluar, ditemukan fakta yang berbeda.
Sebagian besar karyawan tidak mengeluhkan gaji.
Mereka juga tidak memiliki masalah dengan rekan kerja.
Yang paling sering muncul justru:
- tidak melihat peluang pengembangan karier
- minim feedback dari atasan
- kurang mendapatkan tantangan baru
- merasa kontribusinya tidak berdampak
- tidak memahami arah pengembangan dirinya di perusahaan
Perusahaan kemudian melakukan beberapa perbaikan:
- memperjelas jalur karier
- meningkatkan kualitas coaching dari atasan
- memberikan kesempatan pengembangan kompetensi
- memperkuat komunikasi mengenai peluang karier internal
Dalam waktu satu tahun, tingkat turnover pada kelompok karyawan muda mengalami penurunan yang signifikan.
Pelajaran pentingnya:
Masalahnya bukan karena generasi muda tidak loyal.
Masalahnya adalah organisasi belum memahami faktor yang membangun loyalitas bagi generasi tersebut.
Insight Penting
Setiap generasi memiliki cara pandang yang berbeda terhadap dunia kerja.
Namun satu hal yang tidak berubah:
Setiap orang ingin merasa dihargai, berkembang, dan memiliki masa depan yang jelas.
Generasi muda tidak serta-merta menolak loyalitas.
Mereka hanya tidak lagi mendefinisikan loyalitas sebagai bertahan di satu tempat tanpa mempertimbangkan pertumbuhan diri.
Bagi mereka, loyalitas dibangun melalui kepercayaan, kesempatan berkembang, hubungan kerja yang sehat, dan keselarasan antara tujuan pribadi dengan tujuan organisasi.
Karena pada akhirnya, loyalitas bukan sesuatu yang bisa diminta.
Loyalitas adalah sesuatu yang perlu dibangun dan dipelihara oleh kedua belah pihak.
Menurut Anda, apakah loyalitas karyawan saat ini memang menurun, atau sebenarnya definisi loyalitas yang telah berubah mengikuti perkembangan zaman?
Editor: -
Komentar
- Apa Itu Workcation? Yuk Kenali Tren Kerja Ini!
- 3 Tips Ampuh Memaksimalkan Work Life Balance
- Kamu Ingin Jadi HR? Pelajari 4 Skill Penting Ini!
- Berikut 6 Tugas Human Resource Dalam Perusahaan
- 6 Tantangan HR di Era Modern
- Peran Software HR
- Skill-Based Hiring vs Degree-Based Hiring
- Feedback Tahunan Tidak Lagi Cukup di Era Kerja yang Cepat
- Mengapa 90 Hari Pertama Menentukan Kesuksesan Karyawan
- Semakin Banyak Tools, Belum Tentu Semakin Produktif
