icon Logo
Start a Conversation Hi! Click one of our member below to chat on Whatsapp
Recruitment Bukan Sekadar Mengisi Posisi Kosong
Siker.id | 21 May 2026 15:23


Bagikan ke
ARTIKEL TERKAIT

Ketika ada posisi kosong di perusahaan, tekanan biasanya langsung muncul:

"Posisi ini harus cepat terisi."

Akhirnya proses rekrutmen sering berfokus pada satu hal:

secepat mungkin mendapatkan orang pengganti.

Padahal, recruitment bukan hanya soal mengisi kursi yang kosong.

Karena keputusan merekrut seseorang bukan hanya berdampak pada kebutuhan hari ini, tetapi juga pada performa tim, budaya kerja, dan keberlangsungan perusahaan dalam jangka panjang.

 

Recruitment Bukan Sekadar Administrasi

Masih banyak perusahaan yang melihat recruitment hanya sebagai proses administratif:

- posting lowongan

- screening CV

- interview

- hiring

- Lalu selesai.

Padahal recruitment sebenarnya adalah proses strategis untuk menentukan:

- siapa yang akan bergabung dengan tim

- bagaimana orang tersebut beradaptasi

- apakah kompetensinya sesuai kebutuhan

- dan apakah nilai kerjanya selaras dengan budaya perusahaan

Karena orang yang “bisa bekerja” belum tentu “cocok bekerja” di lingkungan tertentu.

Risiko Hiring yang Terlalu Terburu-Buru

Ketika fokus utama hanya “yang penting cepat terisi”, beberapa risiko mulai muncul:

- Karyawan tidak sesuai kebutuhan kerja

- Adaptasi berjalan sulit

- Produktivitas tim terganggu

- Turnover meningkat

- Leader harus mengulang proses training dari awal

Dalam banyak kasus, biaya dari bad hiring jauh lebih besar dibanding biaya menunggu kandidat yang tepat.

 

Tanda Recruitment Belum Berjalan Strategis

Beberapa tanda yang sering terjadi di perusahaan:

- hiring dilakukan karena panik

- user dan HR tidak memiliki ekspektasi yang jelas

- interview hanya fokus pada pengalaman kerja

- proses onboarding minim

- evaluasi recruitment hanya berdasarkan “cepat terisi”

- Akibatnya, perusahaan memang mendapatkan orang baru.

- Tetapi belum tentu mendapatkan orang yang tepat.

- Studi Kasus Nyata

Sebuah perusahaan manufaktur mengalami kekurangan manpower di area produksi karena tingginya turnover.

Karena kebutuhan operasional mendesak, proses recruitment dilakukan secepat mungkin.

Fokus utama saat itu hanya satu:

"yang penting posisi segera terisi agar produksi tetap berjalan."

Dalam waktu singkat, beberapa operator baru berhasil direkrut.

Namun setelah beberapa bulan, masalah mulai muncul:

tingkat kesalahan kerja meningkat

adaptasi karyawan baru berjalan lambat

supervisor harus lebih sering melakukan pengawasan

beberapa karyawan baru resign sebelum masa probation selesai

Setelah dilakukan evaluasi, ditemukan bahwa proses recruitment sebelumnya terlalu fokus pada kuantitas dan kecepatan.

Perusahaan kemudian mulai mengubah pendekatan:

- HR dan user menyusun kriteria kompetensi yang lebih jelas

- interview tidak hanya menilai pengalaman, tetapi juga attitude dan kemampuan adaptasi

- onboarding diperkuat agar karyawan lebih memahami budaya dan alur kerja perusahaan

- evaluasi recruitment tidak hanya berdasarkan jumlah hiring, tetapi juga retention dan performa karyawan baru

Hasilnya:

- kualitas hiring meningkat

- turnover menurun

- proses adaptasi lebih cepat

- stabilitas tim produksi menjadi lebih baik

Pelajaran pentingnya:

Recruitment yang baik bukan tentang seberapa cepat posisi terisi.

Tetapi seberapa tepat orang yang direkrut untuk mendukung kebutuhan perusahaan dalam jangka panjang.

Insight Penting

Merekrut orang yang tepat memang membutuhkan waktu.

Namun memperbaiki dampak dari hiring yang salah sering kali membutuhkan waktu dan biaya yang jauh lebih besar.

Karena pada akhirnya, recruitment bukan sekadar aktivitas mencari karyawan.

Tetapi proses membangun fondasi tim dan masa depan perusahaan.

Menurut Anda, dalam proses recruitment:

mana yang lebih sulit—mencari kandidat yang kompeten atau kandidat yang benar-benar cocok?


Reporter: Kemal Adi Prabowo
Editor: -

     

TAG :

Komentar
ARTIKEL TERKAIT
Pencarian