Psychological Contract: Memahami Ekspektasi Tidak Tertulis antara Karyawan dan Perusahaan
Ketika Janji Tidak Tertulis Memengaruhi Hubungan Kerja
Hubungan kerja tidak hanya dibentuk oleh kontrak formal, gaji, dan uraian jabatan. Karyawan juga memiliki ekspektasi mengenai cara mereka diperlakukan, kesempatan berkembang, dukungan atasan, dan keadilan di tempat kerja.
Perusahaan mungkin tidak pernah menjanjikan promosi secara tertulis, tetapi cara manajer berbicara saat rekrutmen dapat membentuk harapan bahwa peluang karier akan tersedia. Ketika pengalaman nyata berbeda jauh dari harapan tersebut, kepercayaan dapat terganggu.
Fenomena ini berkaitan dengan psychological contract, yaitu persepsi individu tentang kewajiban timbal balik antara dirinya dan organisasi yang tidak seluruhnya tercantum dalam kontrak formal.
Bagaimana Psychological Contract Terbentuk?
Psychological contract terbentuk melalui berbagai pengalaman, seperti komunikasi saat wawancara, proses onboarding, kebijakan perusahaan, interaksi dengan atasan, dan pengamatan terhadap perlakuan kepada karyawan lain.
Contohnya, perusahaan menekankan budaya kolaborasi saat rekrutmen, tetapi dalam praktiknya penghargaan hanya diberikan kepada individu yang bersaing satu sama lain. Ketidaksesuaian ini dapat membuat karyawan mempertanyakan konsistensi nilai perusahaan.
Ekspektasi juga dapat berkaitan dengan fleksibilitas kerja, kesempatan belajar, pengakuan, keamanan kerja, atau dukungan ketika menghadapi kesulitan. Namun, ekspektasi setiap orang berbeda sehingga perusahaan tidak dapat mengasumsikan bahwa seluruh karyawan menginginkan hal yang sama.
HR dapat mengelolanya melalui beberapa langkah:
-
Petakan titik pembentukan ekspektasi. Tinjau proses rekrutmen, orientasi, komunikasi manajer, dan kebijakan SDM.
-
Pastikan informasi realistis. Jelaskan peluang karier, sistem penilaian, fleksibilitas, dan batasan kebijakan secara jujur.
-
Latih manajer berkomunikasi. Dorong mereka menghindari janji yang tidak dapat dipenuhi atau berada di luar kewenangannya.
-
Kumpulkan umpan balik. Gunakan diskusi, survei, atau wawancara untuk memahami kesenjangan antara harapan dan pengalaman.
-
Tindak lanjuti masalah. Jelaskan keputusan, koreksi praktik yang tidak konsisten, dan tetapkan ekspektasi yang lebih realistis.
Menguatkan Kepercayaan dan Komitmen
Ketika ekspektasi dikelola dengan baik, karyawan memiliki pemahaman yang lebih jelas mengenai apa yang dapat mereka harapkan dari perusahaan dan apa yang diharapkan dari mereka.
Konsistensi antara komunikasi dan tindakan juga dapat memperkuat kredibilitas manajemen. Jika perusahaan menyatakan mendukung pengembangan karyawan, misalnya, dukungan tersebut perlu terlihat dalam akses pembelajaran, percakapan karier, atau kesempatan menerapkan keterampilan baru.
Sebaliknya, persepsi bahwa organisasi tidak memenuhi kewajibannya dapat menurunkan kepercayaan dan memengaruhi sikap kerja. Namun, tidak semua ketidakpuasan otomatis menunjukkan pelanggaran psychological contract. Perbedaan preferensi, perubahan kondisi bisnis, dan kesalahpahaman juga dapat menjadi penyebab.
Karena itu, HR perlu memahami konteks sebelum menarik kesimpulan atau menetapkan tindakan.
Kelola Ekspektasi Sejak Rekrutmen
Tinjau materi rekrutmen dan pastikan gambaran pekerjaan sesuai dengan kondisi sebenarnya. Saat onboarding, jelaskan kebijakan, standar kinerja, peluang pengembangan, serta saluran untuk menyampaikan pertanyaan.
Dorong manajer melakukan percakapan rutin mengenai pengalaman kerja dan harapan karyawan. Ketika perubahan bisnis membuat komitmen tertentu sulit dipenuhi, komunikasikan alasannya secara terbuka dan jelaskan pilihan yang tersedia.
HR juga dapat memantau tren umpan balik, keluhan, dan alasan pengunduran diri untuk menemukan pola ketidaksesuaian ekspektasi.
Psychological contract tidak dapat diatur hanya dengan dokumen kebijakan. Kepercayaan dibangun melalui janji yang realistis, komunikasi yang jujur, dan tindakan organisasi yang konsisten dari waktu ke waktu.
Baca Juga Human Capital Value: Mengukur Kontribusi SDM bagi Bisnis
Editor: -
